BLSM, Mendidik Rakyat Bermental Korup & Pengemis?

Baru saja liat di TV tadi, bagaimana warga Sleman, Jogja menolak BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat). Kantor pos, tempat pembagian BLSM sepi. Malah beberapa warga berkumpul di kantor lurah, menyaksikan beberapa pengrajin unjuk kebolehan cara mengukir. Ternyata para pengrajin ini juga tadinya penerima BLSM. Tetapi menolak, karena merasa tak patut.

Maklum, dari hasil kerajinan ini, mereka sudah mampu mengekspor ke luar negeri. Walaupun skala kecil. Begitu juga puluhan warga lainnya. Menolak, karena memang merasa tidak patut mendapatkan BLSM.

Tindakan ini memang jarang. Tetapi patut diacungin jempol. Punya harga diri. Berbeda dengan beberapa pengatri BLSM, yang layaknya seperti pengemis. Bahkan terlihat beberapa pemuda, dengan potongan tubuh makmur, memegang HP, tetap ikut mengantri. Mengantri, seperti pengemis, jatah Rp 300 ribu sebagai kompensasi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Selain itu, kericuhan soal pembagian BLSM juga mengundang keprihatinan. Banyak warga yang tidak mampu ternyata tidak mendaftar, karena data hanya berdasarkan dari kantor pos, bukan dari RT/RW.

Dana Rp 4,5 Trilyun Kompensasi BLSM yang Tidak Produktif

Yang kuherankan, sebenarnya, kenaikan BBM mestilah akan selalu menjadi program pemerintah jika harga BBM dunia meningkat tajam. Bohong kalau ada presiden yang berjanji BBM tidak akan naik. Dan sudah terbukti, SBY saja sudah menaikkan harga BBM sampe tiga kali. Tahun 2005 dua kali, kemudian sempat diturunkan sekali. Dan kemudian, tahun 2013 ini, menjelang Pemilu tahun 2014.

Tetapi mengapa yang menjadi program selalu Bantuan Langsung Tunai seperti ini? Kenaikan konsumsi BBM, kelebihan quota BBM, selalu berkaitan dengan peningkatan pemakaian mobil pribadi. Dan masyarakat memakai mobil pribadi, tentu karena sarana angkutan umum tidak memadai.

Kenaikan harga BBM korelasinya seharusnya terhadap  insentif angkutan umum. Sama-sama dipakai untuk mobilitas. Tetapi ini boro-boro memperbaiki sistem angkutan umum. Pemerintah tidak peduli dengan kondisi angkutan umum. Makanya seperti di Bali, angkutan umum malah mati. Begitu juga di beberapa daerah, kondisinya sangat memprihatinkan. Tidak aman, kualitas angkutan seperti kaleng kerupuk, penyok penyok, kotor dan hampir punah.

Kompensasinya ya malah bagi-bagi uang ke rakyat, yang ‘katanya’ punya indikasi politis. Bukan sekedar meningkatkan daya beli masyarakat.

Padahal, kenaikan ongkos angkutan umum, disertai kenaikan harga bahan pokok akibat transportasi yang juga naik, nilainya lebih tinggi dari BLSM yang dibagi pemerintah tersebut. Untuk Jakarta saja, alokasi biaya transportasi bisa sekitar 30% dari gaji, karena belum terintegrasinya sistem transportasi ke tempat tujuan. Bisa jadi memakai busway, tetapi untuk ke buswaynya pakai ojek, gonta ganti angkot, dan seterusnya. Dan itu semuanya mengalami kenaikan harga.

Sekali lagi, betapa sia-sianya BLSM Rp 4,5 Trilyun ini. Belum lagi jika melihat data dari BPS, dimana anggaran rumah tangga miskin, alokasi no.2 setelah beras adalah rokok. Jadi ini sama saja dengan memberi BLSM kepada industri rokok sebesar Rp 4,5 Trilyun, karena untuk beraspun sudah ada alokasi raskin.

Dan ketika melihat antrian mengambil jatah ini, entah deh, rasanya hati miris saja. BLSM terlihat semakin memprovokasi rakyat untuk bermental pengemis. Ramai-ramai antri dengan tangan dibawah. Belum lagi, peluang korup yang sangat tinggi di dalam pembagiannya. Baik kepada pembaginya, maupun kepada rakyat. Karena yang tidak berhakpun akan mengail di air keruh.

Ya sudah, Salam Kompasiana!

Gambarhttp://regional.kompasiana.com/2013/06/27/blsm-mendidik-rakyat-menjadi-bangsa-bermental-korup-pengemis-568850.html

Tentang Rion Aritonang

Aku ingin berbagi informasi agar dapat dimanfaatkan orang lain. Dengan begitu, pasti banyak rekan dan teman yang bersedia berkomunikasi dengan aku. Akhirnya tercipta hubungan yang menguntungkan kedua belah pihak. Saat ini aku di Medan, belakangan ini, 'hingar bingar' persiapan Pemilu 2009 'memaksa' aku untuk menyenangi untuk menonton politik dan tentunya menyebarkannya ke rekan dan teman yang lain. Mudah-mudahan bisa dijadikan pendidikan politik 'ala kadar', tapi tetap mempertahankan etika politik demi kondusifnya Sumut yang yang tercinta.
Pos ini dipublikasikan di Jurnalistik dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s